top of page
Search

Q&A With Anonymous “ SELAMA KARANTINA DIRUMAH SUAMIKU MELAKUKAN KDRT”

  • Writer: Women In Power
    Women In Power
  • Jul 9, 2020
  • 2 min read

Sumber Gambar: Pexels.com – Nandhu Kumar

Jakarta – Saat pandemic covid-19 Pemerintah menetapkan untuk karantina atau WFH. Kejadian menyedihkan ini dimulai sebelum Pemerintah membuka New Normal. Menghabiskan waktu selama 24 jam sehari, bahkan berhari-hari merupakan kondisi yang tidak mengenakan harus dialami korban kekerasan KDRT bernama sebut saja “Karen” (nama samaran). Tim dari Women In Power kali ini mewawancarai Karen tentang kejadian KDRT yang harus dialaminya selama karantina dirumah.


Q : Hallo kak Karen, bagaimana kalo kita mulai mendengarkan cerita pengalaman kakak saat kena KDRT selama masa karantina dirumah, boleh kakak ceritakan?

A : Hallo.., Jadi Aku masih merasa itu seperti mimpi buruk bagiku. Awal cerita aku mempunyai anak yang usianya baru 1 tahun, banyak sekali keperluan yang dibutuhkan. Untuk anak seperti pempers,makananya dan kebutuhan rumah tangga juga sudah pasti. Ketika itu tabunganku dan suami mulai menipis pada saat suami tidak bekerja selama masa karantina. Disinilah mulai terjadi nya konflik masalah keuangan dan hal sepele lainnya yang mengakibatkan kekerasan atau KDRT menimpa diriku. Aku hanya menjalankan tugas ku sebagai ibu rumah tangga. Kala itu susu, makannya dan popok anaku habis, uangpun juga sudah tidak ada lagi, hanya sisa mie instan, telur dan beras yang masih ada stock untuk kami bisa makan. Lalu aku bicara dengan suamiku untuk bagaimana caranya bisa membeli kebutuhan anakku yang berusia 1 tahun ini. Kemudian suamiku marah dan memaki-maki aku karena aku dianggap tidak bisa membantunya mencari solusi mengenai kekurangan uang. Dan akhirnya suamiku melakukan kekerasan padaku.


Q : Kekerasan seperti apa yang kak Karen alami selama karantina ?


A : Berhari-hari suamiku mulai bersikap emosional setiap kali aku mengeluh kekurangan kebutuhan rumah tangga belum lagi tetangga yang meminta hutangnya dibayar. Tak suka dengan aku yang selalu sedih dan membahas keuangan suamiku pun melemparkanku dengan gelas kaca berisikan air kopi ke badan ku, ia juga menampar pipiku bahkan lebih dari 3x selama karantina. Aku masih terdiam dan hanya bisa menahan tangis agar anaku tidak melihatku menangis. Suatu ketika kejadian itu terulang, suamiku mencambak rambutku sambil mendorongku kearah kasur namun akhirnya kepalaku terbentur tembok di pinggir kasur. Aku tak kuasa menahan tangis sampai aku memutuskan mengemas barang-barang dan meninggalkan rumah bersama anaku pergi kerumah kakak ku. 


Q : lalu bagaimana dengan suami kakak pada saat kakak pergi dari rumah ?


A : Sampai akhirnya setelah hampir 2 minggu aku dirumah kakaku, suamiku telah sadar atas perbuatannya, dia mengunjungiku. Aku membuat perjanjian bila ia mengulangi kekerasan lagi maka aku akan memutuskan hubungan dengan bercerai. Suamiku memohon dan meminta maaf agar aku pulang dan mengampuninya. Akupun tidak tega melihatnya memohon walau sebenarnya rasa sakit selama berhari-hari kekerasan telah dia lakukan padaku saat karantina, akhirnya aku kembali pulang bersamanya.


Q : Sangat kuat dan sabar sekali kak Karen. Semoga untuk kedepannya kak Karen terus bisa rukun bersama keluarga ya kak. Trimakasih kak sudah mau tim kami wawancara.


A : Iya aku senang bisa berbagi cerita walaupun sangat menyedihkan semoga ada pelajaran yang bisa diambil dari pengalamanku terkena KDRT. Terimakasih juga ya sukses untuk kampanyenya.

 
 
 

Comments


Post: Blog2_Post

©2020 by Women In Power. Proudly created with Wix.com

bottom of page